Kamis, 13 Februari 2014

ketika aku belajar dari dandelion

Ketika Aku belajar mengerti tentang Dandelion 

Kerumunan dandelion itu mengingatkan aku Pada perjuangan dan harapan Kesabaran dan keinginan Keikhlasan dan impian Penantian

Mereka tetap berdiri tegak 

Menunggu sang Angin yang dikirimkan Tuhan untuknya

Entah sampai kapan harus menanti 

Bahkan sang waktu pun tidak mengerti

Semakin lama semakin lelah 

Namun kelelahan itu tak membuatnya lantas menyerah 

Berhenti berdiri 

Berhenti menanti 

Semakin lama semakin rapuh 

Tapi kerapuhan tak membuatnya lantas berhenti berdoa kepada Tuhan yang Maha Tinggi 

Dia tetap berdiri

Menanti takdir keesokan hari Ketika Sang Angin menerbangkan satu persatu helaian mahkotanya

Kemudian Sang Angin datang padanya, 

Membawa satu per satu helaian mahkotanya 

Menerbangkan bulu-bulu yang putih suci 

Sebening kilauan mentari pagi 

Ketegaran hatinya membuatnya menerima apa yang telah dan akan dia terima 

Dandelion itu begitu setia 

Dandelion itu begitu ceria 

Dandelion itu begitu bahagia 

Impiannya untuk menjadi bintang 

Tak membuatnya terjatuh kala dia hanya menjadi dandelion 

Impiannya untuk begitu terang 

Tak membuatnya terjatuh kala dia hanya menjadi tanaman liar 

Kamu juga harus seperti dandelion 

Tetap tegak berdiri, berhias diri menjelma menjadi sebuah harapan suci 

Tetap putih seperti kelopak kelopak melati Tetap menjadi dirinya sendiri yang sejati

 "Bukankah dandelion akan tampak indah bila terikat menjadi satu? namun, dia memiliki banyak harapan pada satu tangkainya. satu persatu ingin dia wujudkan lewat sang Angin, saat masanya tiba satu per satu bulu-bulu sucinya akan melepaskan diri dari kelopaknya, mencari dunia yang ia impikan, mencoba mewujudkan mimpi dan inginnya, meski dia tak pernah tahu dimana tujuan akhir tempat sang angin membawanya untuk bersinggah selamanya, menghabiskan sisa-sisa umurnya"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar