ketika aku belajar dari dandelion
Ketika Aku belajar mengerti tentang Dandelion
Kerumunan dandelion itu mengingatkan aku
Pada perjuangan dan harapan
Kesabaran dan keinginan
Keikhlasan dan impian
Penantian
Mereka tetap berdiri tegak
Menunggu sang Angin yang dikirimkan Tuhan untuknya
Entah sampai kapan harus menanti
Bahkan sang waktu pun tidak mengerti
Semakin lama semakin lelah
Namun kelelahan itu tak membuatnya lantas menyerah
Berhenti berdiri
Berhenti menanti
Semakin lama semakin rapuh
Tapi kerapuhan tak membuatnya lantas berhenti berdoa kepada Tuhan yang Maha Tinggi
Dia tetap berdiri
Menanti takdir keesokan hari
Ketika Sang Angin menerbangkan satu persatu helaian mahkotanya
Kemudian Sang Angin datang padanya,
Membawa satu per satu helaian mahkotanya
Menerbangkan bulu-bulu yang putih suci
Sebening kilauan mentari pagi
Ketegaran hatinya membuatnya menerima apa yang telah dan akan dia terima
Dandelion itu begitu setia
Dandelion itu begitu ceria
Dandelion itu begitu bahagia
Impiannya untuk menjadi bintang
Tak membuatnya terjatuh kala dia hanya menjadi dandelion
Impiannya untuk begitu terang
Tak membuatnya terjatuh kala dia hanya menjadi tanaman liar
Kamu juga harus seperti dandelion
Tetap tegak berdiri, berhias diri menjelma menjadi sebuah harapan suci
Tetap putih seperti kelopak kelopak melati
Tetap menjadi dirinya sendiri yang sejati
"Bukankah dandelion akan tampak indah bila terikat menjadi satu? namun, dia memiliki banyak harapan pada satu tangkainya. satu persatu ingin dia wujudkan lewat sang Angin, saat masanya tiba satu per satu bulu-bulu sucinya akan melepaskan diri dari kelopaknya, mencari dunia yang ia impikan, mencoba mewujudkan mimpi dan inginnya, meski dia tak pernah tahu dimana tujuan akhir tempat sang angin membawanya untuk bersinggah selamanya, menghabiskan sisa-sisa umurnya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar